Sabtu, 11 Juni 2016

Langkah-langkah manajemen kebidanan (7 langkah varney)


Varney (2004) menambahkan satu langkahlagi dimana bidan diharapkan dapat menggunakan kemampuannya untuk melakukan deteksi dini dalam proses manajemen sehingga bila klien membutuhkan tindakan segera atau kolaborasi, konsultasi bahkan dirujuk, segera dapat dilaksanakan. Proses manajemen kebidanan ini ditulis oleh Varney berdasarkan Proses Manajemen Kebidanan American College of Nurse Midwife (ACNM) yang pada dasar pemikirannya sama dengan proses manajemen menurut Varney.

Langkah Manajemen Kebidanan Menurut Varney adalah sebagai berikut :

Langkah I (pertama) : Pengumpulan Data Dasar
Pada langkah pertama ini dilakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data yang diperlukan untuk mengevaluasi keadaan klien secara lengkap, yaitu :
·         Riwayat kesehatan
·         Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan
·         Meninjau catatan terbaru atau catatan sebelumnya,
·         Meninjau data laboratorium dan membandingkan dengan hasil studi
Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.Bidan mengumpulkan data dasar awal yang lengkap. Bila klien mengalami komplikasi yang perlu dikonsultasikan kepada dokter dalam manajemen kolaborasi bidan akan melakukan konsultsi. Pada keadaan tertentu dapat terjadi langkah pertama akan overlap dengan 5 dan 6 (atau menjadi bagian dari langkah-langkah tersebut) karena data yang diperlukan diambil dari hasil pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan diagnostic yang lain. Kadang-kadang bidan perlu memulai manajemen dari langkah 4 untuk mendapatkan data dasar awal yang perlu disampaikan kepada dokter.

Langkah II (kedua) : Interpretasi Data Dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi  yang benar terhadap diagnose atau masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulakan. Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga ditemukan masalah atau diagnose yang sfesipik. Kata masalah dan diagnosa keduanya digunakan karena beberapa masalah tidak dapat diselesaiakan seperti diagnosa tetapi sungguh membutuhkan penanganan yang dituangkan kedalam sebuah rencana asuhan terhadap klien.Masalah sering berkaitan dengan pengalaman wanita yang di identifikasi oleh bidan.Masalah ini sering menyertai diagnosa.Sebagai contoh diperoleh diagnosa “kemungkinan wanita hamil”, dan masalah yang berhubungan dengan diagnosa ini adalah bahwa wanita tersebut mungkin tidak menginginkan kehamilannya. Contoh lain yaitu wanita pada trimester ketiga merasa takut terhadap proses persalinan dan melahirkan yang sudah tidak dapat ditunda lagi. Perasaan takut tidak termasuk dalam kategori “nomenklatur standar diagnosa” tetapi tentu akan menciptakan suatu masalah yang membutuhkan pengkajian lebih lanjut dan memerlukan suatu perencanaan untuk mengurangi rasa takut.

Langkah III (ketiga) : Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial
Pada langkah ini kita mngisentifikasi masalah atau diagnosa potensial lain berdasarkan ragkaian masalah dan diagnosa yang sudah di identifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memunkinkan dilakukan pencegahan, sambil mengamati klien, bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa/masalah potensial ini benar-benar terjadi.
Pada langkah ini penting sekali melakukan asuhan yang aman.Contoh seorang wanita dengan pemuaian uterus yang berlebihan.Bidan harus mempertimbangkan kemungkinan penyebab pemuaian uterus yang berlebihan tersebut (misalnya pelihidramnion, besar dari masa kehamilan, ibu dengan diabetes kehamilan, atau kehamilan kembar). Kemudian ia harus mengantisipasi, melakukan perencanaan untuk mengatasinya dan bersiap-siap terhadap kemungkinan tiba-tiba terjadi perdarahan post partum yang disebabkan oleh atonia uteri karena pemuaian uterus yang berlebiahan. Pada persalinan dengan bayi besar, bidan sebaiknya juga mengantisipasi dan beriap-siap terhadap kemungkinan terjadinya distocia bahu dan juga kebutuhan untuk resusitasi.Bidan juga sebaiknya waspada terhadap kemungkinan wanita menderita infeksi saluran kencing yang menyebabkan tingginya kemungkinan terjadinya peningkatan partus prematur atau bayi kecil.Persiapan yang sederhana adalahdengan bertanya dan mengkaji riwayat kehamilan pada setiap kunjungan ulang, pemeriksaan laboratorium terhadap simptomatik terhadap bakteri dan segera memberi pengobatan jika infeksi saluran kencing terjadi.

Langkah IV (keempat) : Mengidentifikasi dan Menetapkan Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan Segera
Menidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter fan atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai kondisi klien.
Langkah keempat mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan. Jadi manajemen bukan hanyaselama asuhan primer periodic atau kunjungan prenatal saja, tetapi juga selama wanita tersebut bersama bidan terus-menerus, misalnya pada waktu wanita tersebut dalam persalinan.Data baru mungkin saja perlu dikumpulkan dan dievaluasi.Beberapa data mungkin mengidikasikan situasi yan gawat dimana bidan harus bertindak segera untuk kepentingan keselamatan jiwa ibu atau anak (misalnya, perdarahan kala III atau perdarahan segera setelah lahir, distocia bahu, atau nilai APGAR yang rendah).    Dari data yang dikumpulkan dapat menunjukan satu situasi yang memerlukan tindakan segera sementara yan lain harus menunggu intervensi dari seorang dokter, misalnya prolaps tali pusat. Situasi  lainnya bisa saja tidak merupakan kegawatan tetapi memerlukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter.
Demikian juga bila ditemukan tanda-tanda awal dari pre-eklampsia, kelainan panggul, adanya penyakit jantung, diabetes atau masalah medic yang serius, bidan perlu melakukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter. Dalam kondisi tertentu seorang wanita mungkin juga akan memerlukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter atau tim kesehatan lainnya seperti pekerja sosial, ahli gizi atau seorng ahli perawat klinis bayi bru lahir. Dalam hal ini bidan harus mampu mengevaluasi kondisi setiap klien untuk menentukan kepada siapa konsultasi dan kolaborasi yang paling tepat dalam manajemen asuhan klien.

Langkah V (kelima) : Merencanakan Asuhan Yang Menyeluruh
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya.Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap diagnosa atau masalah yang telah diidentifikasi atau diantisipasi, pada langkah ini reformasi / data dasar yang tidak lengkap dapat dilengkapi. Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah teridentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang berkaitan tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut seperti apa yang diperkirakan akan terjadi berikutnya apakah dibutuhkan penyuluhan, konseling, dan apakah perlu merujuk klien bila ada masalah-masalah yang berkaitan dengan sosial-ekonomi, kultural atau masalah psikologis. Dengan perkataan lain, asuhannya terhadap wanita tersebut sudah mencakup setiap hal yang berkaitan dengan semua aspek asuhan. Setiap rencana asuhan haruslah disetujui oleh kedua belah pihak, yaitu oleh bidan dan k lien, agar dapat dilaksanakan dengan efektif karena klien merupakan bagia dari pelaksanaan rencana tersebut.Oleh karena itu, langkah ini tugas bidan adalah merumuskan rencana asuhan sesuai dengan hasil pembahasan rencana bersama klien, kehidupan membuat kesepakatan bersama sebelum melaksanakannya.
Semua keputusan yang dikembangkan dalam asuhan menyeluruh ini harus rasional dan benar-benar valid berdasarkan pengetahuan dan teori yan up to date serta sesuai dengan asumsi tentang apa yang atau tidak akan dilakukan oleh klien.
Rasional berarti tidak berdasarkan asumsi, tetapi sesuai dengan keadan klien dan pengetahuan teori yang benar dan memadai atau berdasarkan suatu data dasar yang lengkap, dan bisa dianggap valid sehingga menghasilkan asuhan klien yang lengkap dan tidak berbahaya.

Langkah VI (keenam) : Melaksanakan Perencanaan
pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diurakan pada langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan aman. Perencanaan ini bisa dilakukan oleh bidan atau sebagian dilakukan oleh bidan dan sebagian lagi oleh klien, atau anggota tim kesehatan yang lain. Jika bidn tidak melakukannya sendiri ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya (misalnya : memastikan agar langkah-langkah tersebut benar-benar  terlaksana). Dalam situasi dimana bidan dalam manajemen asuhan bagi klien adalah bertanggungjawab terhadap terlaksananya rencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut. Manajemen yang efisien akan menyingkat waktu dan biaya serta meningkatkan mutu dari asuhan klien.

Langkah VII (ketujuh) : Evaluasi

Pada langkah ke VII ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan sebagaimana telah diidentifikasi didalam masalah diagnosa. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar dalam pelaksanaannya.Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut telah efektif sedang sebagian belum efektif.

Makalah manajemen pelayanan kebidanan


ORGANISASI PELAYANAN KEBIDANAN
Tentang
”Manajemen Pelayanan Kebidanan”

BAB I

Bidan merupakan salah satu profesi tertua sejak adanya peradaban umat manusia. Bidan muncul sebagai wanita terpercaya dalam mendampingi  dan menolong ibu yang melahirkan. Peran dan posisi bidan dimasyarakat  sangat dihargai dan dihormati karena tugasnya yang sangat mulia, memberi  semangat, membesarkan hati,mendampingi, serta menolong ibu yang  melahirkan sampai ibu dapat merawat bayinya dengan baik. Bidan sebagai  pekerja profesional dalam menjalankan tugas dan prakteknya, bekerja  berdasarkan pandangan filosofis yang dianut, keilmuan, metode kerja, standar  praktik  pelayanan serta kode etik yang dimilikinya.
 Dalam melaksanakan asuhan kebidanan yang merupakan salah satu dari praktik kebidanan tentunya seorang bidan memiliki hak dan kewajiban.  Dalam hal ini asuhan kebidanan adalah bantuan yang diberikan oleh bidan kepada individu pasien atau klien yang pelaksanaannya dilakukan dengan cara
a.       Bertahap dan sistematis
b.      Melalui suatu proses yang disebut manajemen kebidanan.
Dua hal dasar yang harus dipenuhi, dimana ada keseimbangan antara tuntutan profesi dengan apa yang semestinya didapatkan dari pengembanan tugas secara maksimal. Memperoleh perlindungan hukum dan profesi sepanjang melaksanakan tugas sesuai standar profesi dan Standar Operasional Prosedur (SOP) merupakan salah satu hak bidan yang mempertahankan kredibilitasnya dibidang hukum serta menyangkut aspek legal atas dasar peraturan perundang-undangan dari pusat maupun daerah. 
1.      Bagaimana cara melakukan manajemen kebidanan?
2.      Bagaimana konsep manajemen kebidanan yang berkualitas?

1.      Tujuan umum
Meningkatnya kemampuan bidan untuk berfikir kritis dan bertindak dengan logis, analisis dan sistimatis dalam memberikan asuhan kebidanan ditiap jenjang pelayanan kesehatan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan ibu, bayi/anak balita.
2.      Tujuan Khusus
a.       Sebagai pedoman dalam mengelola klien dengan memberikan asuhan kebidanan yang efektif sesuai kebutuhan klien/masyarakat berdasarkan evidence based.
b.      Sebagai pedoman cara pendokumentasian dari setiap asuhan kebidanan yang diberikan disarana pelayanan kesehatan.
1.      Untuk Depkes
Dapat dijadikan sebagai acuan dalam mengawasi para bidan Indonesia apakah bidan Indonesia sudah melakukan manajemen kebidanan sesuai dengan standar.
2.      Untuk Institusi
Dapat dijadikan sebagai acuan dalam memberikan wawasan/pengetahuan kepada mahasiswa, apakah mahasiswa sudah memahami manajemen kebidanan.
3.      Untuk Mahasiswa
Dapat dijadikan sebagai referensi dalam menggali/mencari informasi untuk memperluas wawasan/pengetahuan tentang manajemen kebidanan








1.         Pengertian
Manajemen kebidanan adalah pendekatan yangdigunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secarasistematis mulai dari pengkajian, analisis data didagnosis kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi Menurut Buku 50 Tahun IBI 2007.
Menurut Depkes RI 2005 Manajemen Kebidanan adalah metode dan pendekatan pemecahan masalah ibu dan anak yang khusus dilakukan oleh bidan dalam memberikan asuhan kebidanan kepada individu, keluarga dan masyarakat.
Helen Varney (1997)Manajemen kebidanan adalah proses pemecahanmasalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dantindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, keteranpilan dalam rangkaian tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan berfokus pada klien.
Proses pelaksanaan pemberian pelayanan kebidanan untuk memberikan asuhan kebidanan kepada klien dengan tujuan menciptakan kesejahteraan bagi ibu dan anak,kepuasan pelanggan dan kepuasan bidan sebagai provider.
Langkah-langkah dalam manajemen pelayanan kebidanan:
Langkah I : Pengumpulan Data
Pengumpulan Data Dasar yaitu Pegumpulan informasi yang akurat danlengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.
Anamnesa 
a.       Biodata (Nama, umur, alamat, pekerjaan, agama, pendidikan)
b.      Riwayat Menstruasi (menarche, siklus menstruasi, lamanya, banyaknyadarah yang keluar, aliran darah yang keluar, mentruasi terakhir, adakah dismenorhe, gangguan sewaktu menstruasi (metrorhagia, menoraghi), gejalapremenstrual)
c.       Riwayat perkawinan (kawin brp kali, usia kawin pertama kali)
d.      Riwayat Kesehatan (Gambaran penyakit lalu, riwayat penyakit keluarga, riwayat kehamilan sekarang )
e.       Riwayat Kehamilan, Persalinan & Nifas
  Jumlah kehamilan dan kelahiran : G (gravid), P (para), A (abortus), H (hidup).
  Riwayat persalinan yaitu jarak antara dua kelahiran, tempat melahirkan, lamanyamelahirkan, cara melahirkan.
  Masalah/gangguan kesehatan yang timbul sewaktu hamil dan melahirkan, missal : preeklampsi, infeksi, dll)
f.       Bio-psiko-sosial spiritual
g.      Pengetahuan Klien 
h.      Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital 
i.        Pemeriksaan khusus (Inspeksi, Palpasi, Auskultasi, Perkusi) 
j.        Pemeriksaan penunjang (Laboratorium, catatan terbaru dan sebelumnya)
Langkah II : Interpretasi Data Dasar 
Dengan melakukan identifikasi terhadap diagnosa atau masalah berdasarkan interpretasi atas data-data yang telah dikumpulkan.
Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan oleh bidan dalam lingkup praktek kebidanan dan memenuhi Standar nomenklatur diagnosa kebidanan.
Standar Nomenklatur Diagnosa Kebidanan :
  Diakui dan telah disyahkan oleh profesi
  Berhubungan langsung dengan praktek kebidanan
  Memiliki ciri khas kebidanan
  Didukung oleh clinical judgement dalam praktek kebidanan
  Dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan


Langkah III: Mengidentifkasi Diagnosa atau Masalah Potensial.
Langkah ini berdasarkan diagnosis atau masalah yang sudah diidentifikasi. Bidan dituntut untuk mampu mengantisipasi masalah potensial, tidak hanya merumuskan masalah  potensial yang akan terjadi tetapi juga merumuskan tindakan antisipasi agar masalah atau diagnosis potensial tidak terjadi. Merupakan langkah yang bersifat antisipasi yang rasional atau logis.
Langkah IV: Mengidentifikasi dan menetapkan kebutuhan
Mengidentifikasi dan menetapkan kebutuhan yang memerlukan penanganan segera untuk Melakukan Konsultasi, Kolaborasi dengan Tenaga Kesehatan lain berdasarkan kondisi Klien.
Langkah V: Merencanakan Asuhan
Merencanakan Asuhan yang  menyeluruh semua keputusan yang dikembangkan dalam asuhan menyeluruh ini harus rasional dan benar-benar valid berdasarkan pengetahuan dan teori yang up to date serta sesuai dengan asumsi tentang apa yang akan dilakukan klien.
Langkah VI: Pelaksanaan Langsung Asuhan dengan Efisien dan Aman.
Dalam situasi di mana bidan berkolaborasi dengan dokter untuk menangani klien yang mengalami komplikasi, maka keterlibatan bidan dalam manajemen asuhan bagi klien adalah tetap bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut.  Manajemen yang efisien akan menyangkut waktu dan biaya serta meningkatkan mutu dan asuhan klien.
Langkah VII: Evaluasi.
Evaluasi ke efektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi : pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi dalam diagnose dan masalah. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya.

2.         Tujuan SOP :
  Agar petugas menjaga konsistensi pada  tingkat kinerja tertentu
  Agar mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-tiap posisi dalam organisasi
  Memperjelas alur tugas, wewenang dan tanggung jawab dari petugas terkait
  Melindungi organisasi dan staf dari malpraktik atau kesalahan administrasi
  Menghindari kegagalan, kesalahan, keraguan dan inefisiensi

3.         Fungsi SOP :
  Memperlancar tugas petugas/tim
  Sebagai dasar hukum bila terjadi penyimpangan
  Mengetahui dengan mudah hambatan-hamabatan
  Mengarahkan petugas untuk disiplin
  Sebagai pedoman

4.         Tujuan Operasional suatu manajemen harus mengandung unsur-unsur:
  WHAT : Kegiatan apa yang akan dikerjakan harus jelas.
  WHO : Sasarannya harus jelas, siapa yang akan mengerjakan, beberapa yang ingin dicapai.
  WHEN : Kejelasan waktu untuk menyelesaikan kegiatan.
  HOW : Prosedur kerjanya (SOP) jelas, sesuai dengan SPK (Standar Pelayanan Kebidanan).
  WHY : Mengapa kegiatan itu harus dikerjakan, dengan penjelasan yang jelas.
  WHERE : Kapan dan dimana kegiatan akan dilakukan tertera jelas.
Jika perlu ditambah dengan : WHICH : Siapa yang terkait dengan kegiatan tersebut ( lintas sektor walaupun lintas program yang terkait ).


Langkah – langkah Manajemen Pelayanan Kebidanan dibagi 3 yaitu :
  P1 ( Perencanaan )
  P2 ( Pengorganisasian )
  P3 (Penggerakan, Pelaksanaan, Pengawasan dan Pengendalian)
1.         P1 ( PERENCANAAN )
Perencanaan adalah proses untuk merumuskan masalah kegiatan, menentukan kebutuhan dan sumber daya yang tersedia, menetapkan tujuan kegiatan yang paling pokok dan menyusun langkah-langkah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan ( landasan dasar ).
                        Contoh :
 Jadwal Pelayanan ANC di Posyandu, Puskesmas.
  Rencana Pelatihan untuk kader, nakes

2.         P2 ( PENGORGANISASIAN )
Pengorganisasian adalah suatu langkah untuk menetapkan menggolong-golongkan, dan mengatur berbagai kegiatan, penetapan tugas-tugas dan wewenang seseorang dan pendelegasian wewenang dalam rangka pencapaian tujuan layanan kebidanan.
Inti dari pengorganisasian adalah merupakan alat untuk memadukan atau sinkronisasi semua kegiatan yang berasfek personil, finansial, material dan tata cara dalam rangka mencapai tujuan pelayanan kebidanan yang telah di tetapkan.
Contoh : P2 (Pelaksanaan )
  Puskesmas
  Puskesmas Pembantu
  Polindes dan Pembantu
  Balai Desa




3.         P3 (Penggerakan dan Pelaksanaan, Pengawasan dan Pengendalian )
Penggerakan dan Pelaksanaan adalah suatu usaha untuk menciptakan iklim kerja sama di antara pelaksanaan program pelayanan kebidanan sehingga tujuan dapat tercapai secara efektif dan efisien.
Fungsi manajemen ini lebih menekankan bagaimana seseorang manajer pelayanan kebidanan mengarahkan dan menggerakkan semua sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pelayanan kebidanan yang telah di sepakati.
Contoh :
 Pencatatan dan pelaporan ( SP2TP )
 Supervisi
 Stratifikasi Puskesmas
 Survey
Seorang Bidan haruslah berfikir logikatik, anallitis, sistematik,teruji secara empiris, memenuhi sifat pengetahuan umum yaitu : objektif, umum dan memiliki metode ilmiah. Penerapan di dalam Manajemen Pelayanan Kebidanan.
Unsur- unsur dalam perencanaan Pelayanan Kebidanan meliputi :
1.      IN – PUT
Merujuk pada sumber-sumber yang diperlukan untuk melaksanakan aktifitas yang meliputi :
  Man : Tenaga yang di manfaatkan.
Contoh : Staf atau Bidan yang kompeten
  Money : Anggaran yang di butuhkan atau dana untuk program
  Material : Bakauataumateri ( sarana dan prasarana ) yang dibutuhkan
  Metode : Cara yang di pergunakandalambekerjaatauprosedurkerja
  Minute / Time : Jangka waktu pelaksanaan kegiatan program
  Market : Pasar dan pemasaranatausaranaprogram
   


2.      Proses
Memonitor tugas atau kegiatan yang dilaksanakan. Meliputi Manajemen Operasional dan Manajemen asuhan.
 Perencanaan ( P1 )
 Pengorganisasian ( P2 )
 Penggerakan dan pelaksanaan, Pengawasan dan Pengendalian ( P3 )
3.      OUT – PUT
Cakupan Kegiatan Program :
  Jumlah kelompok masyarakat yang sudah menerima  layanan kebidanan   (memerator), di bandingkan dengan jumlah kelompok masyarakat yang menjadi sasaran program kebidanan. (Denominator)
  Pelayanan yang diberikan sesuai dengan standar pelayanan kebidanan (Mulai dari KIE, Asuhan Kebidanan, dsb).
Contoh : Untuk BPS : Out – Putnya adalah
  Kesejahteraan ibu dan janin
  Kepuasan Pelanggan
  Kepuasan bidan sebagai provider
4.      Effect
Perubahan pengetahuan, sikap, dan prilaku masyarakat yang diukur dengan peran serta masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan kebidanan yang ada di sekitarnya ( Posyandu, BPS, Puskesmas dsb ) yang tersedia.
5.      OUT – COME ( IMPACT )
Di pergunakan untuk menilai perubahan atau dampak ( impact ) suatu program, perkembangan jangka panjang termasuk perubahan status kesehatan masyarakat.





Pada dasarnya untuk melakukan manajemen kebidanan memang harus melewati beberapa tahap. Seperti dikemukakan Hellen Varney ada 7 langkah sedangkan dari depkes menyatakan 5 langkah. Pada prinsipnya masing-masing pendapat sama, hanya berbeda dalam cara pendokumentasiannya. Namun dalam penerapannya nanti tidaklah harus kaku menggunakan 5 langkah atau 7 langkah yang perlu diingat bahwa dalam manajemen kebidanan tersebut dilakukan secara sistematis dengan metode pendekatan tertentu dalam membantu pemecahan masalah kesehatan ibu dan anak.
Secara umum konsep manajemen kebidanan berkualitas meliputi :
1.      Manajemen dilakukan melalui pendekatan dengan mengidentifikasi kebutuhan konsumen.
2.      Meliputi seluruh kegiatan.
3.      Meliputi seluruh aspek pelayanan dan dedikasi aktif seluruh staf untuk mengidentifikasi seluruh konsumen.
4.      Memberikan pelayanan secara berkesinambungan.
5.      Memonitor kepuasan konsumen.
6.      Memahami kebutuhan dan memantau perubahan yang terjadi melalui pemantauan ulang.
7.      Meningkatkan sumber daya untuk mengembangkan kualitas tindakan dab pelayanan khusus secara tetap melalui prosedur dan system informasi yang fleksibel.
Semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat khususnya bagi para pembaca dan dapat menambah pengetahuan tentang lingkup praktik kebidanan.untuk itu penulis mengharapkan kepada para pembaca untuk lebih jauh memahami makalah ini dan dapat memberikan kritik dan saran yang sifatnya membangun


Asrinah,dkk. 2010. Konsep kebidanan. Graha Ilmu : Yogyakarta. Hal. 109
Estiwidani, dkk. 2009. Konsep Kebidanan. Fitramaya : Yogyakarta. Hal. 117
SYAHLAN, J.H.Dr. SKM. 1996. KEBIDANAN KOMUNITAS. YAYASAN BINA SUMBER DAYA KESEHATAN : JAKARTA

Tadjuddin norma. Konsep Kebidanan. Poltekkes Kemenkes Makassar : Makassar. Hal 70